𝗦𝗨𝗥𝗔𝗧 𝗞𝗛. 𝗠𝗨𝗛𝗔𝗠𝗠𝗔𝗗 𝗡𝗔𝗝𝗜𝗛 𝗠𝗔𝗜𝗠𝗢𝗘𝗡 𝗧𝗘𝗡𝗧𝗔𝗡𝗚 𝗞𝗢𝗡𝗧𝗥𝗢𝗩𝗘𝗥𝗦𝗜 𝗚𝗘𝗥𝗔𝗞𝗔𝗡 𝗔𝗡𝗧𝗜 𝗛𝗔𝗕𝗔𝗜𝗕 𝗕𝗔’𝗔𝗟𝗔𝗪𝗜

Irfan Irawan

𝗦𝗨𝗥𝗔𝗧 𝗞𝗛. 𝗠𝗨𝗛𝗔𝗠𝗠𝗔𝗗 𝗡𝗔𝗝𝗜𝗛 𝗠𝗔𝗜𝗠𝗢𝗘𝗡 𝗧𝗘𝗡𝗧𝗔𝗡𝗚 𝗞𝗢𝗡𝗧𝗥𝗢𝗩𝗘𝗥𝗦𝗜 𝗚𝗘𝗥𝗔𝗞𝗔𝗡 𝗔𝗡𝗧𝗜 𝗛𝗔𝗕𝗔𝗜𝗕 𝗕𝗔’𝗔𝗟𝗔𝗪𝗜

بسم اهلل الرحمن الرحيم

الحمد هلل رب العالمين وبه نستعين على أمور الدنيا والدين، والصالة والسالم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد





Sebelumnya kami memohon maaf kepada seluruh habaib, ulama, dan kiai yang hadir khususnya kepada Habib Quraisy Baharun dan Habib Hanif Al-Atthos yang mengundang kami untuk hadir pada acara diskusi strategis tertutup di Kuningan Jawa Barat ini, bahwa kami memohon maaf tidak bisa hadir pada acara ini. Meskipun demikian, kami sangat mendukung terselenggaranya diskusi ilmiah ini dan kami selalu mendoakan agar diskusi-diskusi seperti ini bisa memperkuat tali silaturahmi antara habaib dan ulama serta sebagai tempat konsolidasi penguatan ajaran-ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah khususnya dalam masalah penghormatan terhadap Ahlul Bait yang akhir-akhir ini terus-menerus hendak dirusak oleh oknum-oknum yang ingin menjauhkan umat Islam dari kecintaan kepada dzurriyyah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.


Gerakan anti habaib di Indonesia pimpinan Imaduddin Utsman bukan hal baru. Pada tahun 2020 pada fanpage “Generasi Muda NU Banten” Imad menulis artikel berjudul “Habaib bukan Ahlul Bait”. Kami telah membahas gerakan anti habaib Bani Alawi yang dimotori oleh Imaduddin Utsman, Mogi Nurfadhil, Nur Ikhyak Salafi, Hadinegara, Fuad Plered, dan lain-lain ini sejak awal mereka membangun argumentasi dan mengkonsolidasikan gerakan satu atau dua tahun yang lalu.


Sangat patut dicurigai bahwa gerakan ini tidak berkembang secara organik, namun merupakan hasil desain dari pihak-  pihak jahat yang ingin memecah belah ummat Islam. Bukan tidak mungkin jika gerakan ini disokong oleh kelompok-  kelompok jahat seperti oligarki dan sebagainya. Ini membuat kita sesama muslim justru sibuk berjibaku dalam konflik internal padahal tantangan dari luar sangat mungkin bisa mengancam kita semua. Model mengadu domba ala PKI patut kita curigai. Apalagi oknum-oknum Kristiani benci pada kalangan Habaib yang mengawal akidah ummat melalui Syi’ar Sholawatan dan maulidan. Kelompok itu juga benci pada kalangan Kiyai karena mengawal akidah melalui Pesantren, Ngaji kitab dan Pembacaan al-Qur’an bagi orang-orang mati. Tak heran sosok-sosok seperti gus Wafi dibenci komunitas Kristiani dan sosok seperti Idrus Romli juga dibenci olehh kalangan Wahabi dan Liberal yang memiliki hubungan erat dengan kelompok salibis.


Posisi kami jelas, intensi gerakan yang Imaduddin dkk buat ini adalah untuk mempertentangkan dan mengadu domba antar warganegara yaitu kaum Muslimin dengan para habaib dengan kedok penelitian ilmiah, padahal argumentasi yang mereka bangun sama sekali jauh dari kata ilmiah karena mereka menolak metodologi penetapan nasab yang sudah disepakati oleh para ulama Fiqh dan ngotot menggunakan metodologi mereka sendiri yang mereka klaim lebih “modern” dan “akurat” padahal tidak ada dalam kitab-kitab Fiqh. Mereka lebih percaya dengan temuan tes DNA yang dipakai orang-orang Barat daripada pengakuan dari ulama-ulama sekaliber Imam Sakhawi, Imam Ibnu hajar, Imam Ba-Makhramah, Sayyid Murtadla al-Zabidi, ahli sejarah Syaikh Bahauddin al-Yamani al-Janadi, Syaikh Nawawi Banten, Sayyid Bakri Syatho, Hadlratussyaikh Hasyim Asy’ari, KH. Hasan Genggong, KH Hamid Pasuruan, KH Maimun Zubair dan sebagainya.


Sudah begitu banyak ulama dan kiai yang menyampaikan penolakan terhadap gerakan tersebut, namun seperti yang diperkirakan gerakan mereka tidak akan mau berhenti. Bahkan mereka sudah bisa menginfiltrasikan syubhat yang mereka buat di media-media besar, seperti majalah Tempo pada 7 April 2024 kemarin membuat laporan penelitian berjudul “Dijual: Gelar Habib Rp 4 Juta” dan sehari setelahnya 8 April 2024 membuat liputan khusus Idul Fitri berjudul “Obral Gelar Habib” di halaman kovernya. Inna lilLlahi wa inna ilaihi raji’un.


Berikut kami rangkum beberapa alasan kami menolak pernyataan Imaduddin Utsman selaku manifestasi dan pimpinan gerakan anti habaib diatas sebagai berikut:

1. Merusak tatanan ilmu nasab


Imaduddin menolak segala metode penetapan nasab yang memverifikasi kesahihan nasab Bani Alawi. Di antaranya adalah al-syuhrah wa al-istifadhah (terlihat dari label syarif bagi banyak Bani Alawi dalam referensi-referensi sejarah kuno), iqrar shahib al-qabilah (terlihat dari pengakuan banyak Naqabah internasional dan pengakuan dalam kitab-kitab sejarah terdahulu), dan khat al-nassabah (tulisan banyak pakar nasab yang diakui sebagai ahli nasab).


Imaduddin justru membuat satu metode sendiri yang tak pernah bisa ia buktikan sebagai satu metode pembuktian nasab yang diterima oleh para Ulama’ nasab. Syarat “kitab sezaman” yang dibuat-buat oleh Imaduddin tidak pernah menemukan pembenarannya baik dalam kitab fiqh Madzahib al-Arba’ah maupun dalam banyak kitab metodologi penetapan ilmu nasab.


2. Tidak berimbang menyikapi keragaman informasi


Imaduddin sangat mudah menerima segala informasi yang belum valid sebagai sebuah kebenaran apabila itu berkaitan dengan pembatalan nasab Bani Alawi. Di sisi yang lain dia secara angkuh menolak sekian banyak fakta yang mengkonfirmasi kesahihan nasab Bani Alawi.


Contoh yang terbaru adalah klaim dia bahwa Mufti Yaman menolak kesahihan nasab Bani Alawi yang kemudian terbukti bahwa itu hanya berdasar tulisan di internet tanpa sedikitpun upaya untuk mengkonfirmasi kebenaran berita itu.


Faktanya kabar tersebut adalah kebohongan yang nyata. Contoh yang paling sering ia lakukan adalah menerima kitab al-Syajarah al Mubarakah yang diterima seperti kitab yang sangat valid kebenarannya padahal semua pakar nasab bahkan muhaqqiqnya sendiri meragukan validitas kitab tersebut.


3. Mudah menyatakan tokoh sejarah sebagai tokoh fiktif


Cara-cara kotor menuduh fiktif sosok sejarah adalah metode paling sering digunakan oleh para orientalis yang membenci Islam. Dan cara ini sering dipakai oleh Imaduddin dkk padahal penelitian yang mereka lakukan hanya penelitian dari internet yang tentu tidak komprehensif.


Jika metodologi abal-abal yang dibuat oleh imaduddin terus digaungkan, maka akan banyak nasab yang hilang di muka bumi sepertin nasab Syaikh Abdul Qodir al-Jailani bahkan Wali Songo itu sendiri.


4. Memaksakan Interpretasinya Sebagai Kebenaran Tunggal


Tulisan Imaduddin jelas jauh dari standart ilmiah. Namun, apa yang dilakukan Imaduddin kalaupun dikatakan sebagai penelitian ilmiah tetap tak bisa dinyatakan sebagai kebenaran tunggal. Namun sikap-sikapnya di atas panggung justru seolah ia menjadi pemimpin kebenaran tunggal dalam isu ini.


Salah satu contohnya adalah mengenai validitas kitab al-Syajarah al-Mubarakah, metodologi penetapan nasab yang dibuat-buat, interpretasi bahwa tidak disebut artinya menafikan, dan masih banyak lagi. Klaim-klaim yang sampai saat ini belum jelas pembuktian ilmiahnya itu, dieluh-eluhkan secara arogan sebagai kebenaran mutlak yang wajib diikuti.


5. Meninggalkan ulama Aswaja dan justru mendahulukan orang-orang tidak jelas keilmuannya dari kalangan ahli bid’ah 

Imaduddin yang mengaku terafiliasi dengan NU menolak sekian banyak referensi dari banyak ulama Ahlussunnah wal Jama’ah seperti Imam al-Sakhawi, Ba-Makhramah, Ibnu Hajar, dan masih banyak lagi. Ia justru terbukti meniru isi tulisan-tulisan di internet yang ternyata ditulis oleh orang-orang yang belum jelas keilmuannya dan terindikasi terafiliasi dengan kelompok-kelompok menyimpang Salafi atau Syi’ah.


Berikut beberapa nama tersebut:


Murad Syukri Suwaidan: Dia adalah seorang dai Salafi Wahabi yang cenderung membela Israel ketika konflik dengan Hamas di Palestina. Dia hanya seorang dai (tukang dakwah) yang itu artinya dia belum pantas disebut sebut sebagai ulama dunia.


Ahmad bin Sulaiman Abu Bakrah al-Turbani: Sosok ini juga terkonfirmasi sebagai Salafi Wahabi. Ia adalah murid darivSalim al-Hilali, Rabi’ al-Madkhali, dan Yahya al-Hajuri yang merupakan tokoh-tokoh Salafi. Menurut pengakuan pribadinya, ia bukanlah orang yang taat beragama dan bukan orang yang mendalami ilmu agama. Ini menunjukkan bahwa ia bukanlah seorang ulama.


Muqbil bin Hadi al-Wadi’i: Pada mulanya ia adalah pengikut Syi’ah Zaidiyah asal Yaman, kemudian ia belajar ke Arab Saudi dan menjadi seorang Salafi-Wahabi yang radikal.


Ali al-Thanthawi : Pada mulanya ia adalah seorang Ahlussunnah wal Jama’ah kelahiran Suriah, kemudian ia pindah ke Arab Saudi dan bekerja sebagai penyiar radio dan berubah haluan menjadi Salafi Wahabi.


Syamsuddin Syarafuddin: Ia adalah seorang ulama Syi’ah Zaidiyah yang menjadi Mufti Hautsi. Ia memang memiliki konflik dengan Ahlussunnah wal Jama’ah sehingga wajar kalau ia mencoba mambatalkan nasab Sadah Bani Alawi. Hal itu tak lain dikarenakan faktor politis.


Audah al-‘Aqiliy: Beliau berasal dari Mesir dan sangat terindikasi memiliki aliran SalafiWahabi. Hal ini diketahui melalui website yang dikelola atas namanya yang sangat anti dengar ajaran sufi dan sesuai dengan ajaran Salafi Wahabi.


Merekalah yang dijadikan rujukan oleh para pembatal nasab Bani Alawi. Padahal banyak tokoh ulama yang sudah dan akrab familiar di telinga kalangan kiai dan santri serta pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah secara umum yang mengakui nasab Ba’alawi, diantaranya seperti Imam al-Janadi (w. 732 H), Imam al-Khazraji (w. 812 H), Imam al-Zabidi (w. 893 H), Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974 H), Imam al-Kurdi al-Madani (w. 1194 H), Imam Murtadla al-Zabidi (1205 H), Imam al-Syarqawi (w. 1227 H), Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (1304 H), Syaikh Nawawi alBantani (w. 1316 H), Syaikh Mahfuzh Termas (w. 1338 H), Syaikh Yusuf al-Nabhani (w. 1350 H), Syaikh Hasyim Asy’ari dan seluruh ulama pendiri NU, Syaikh Yasin al-Fadani (w. 1409 H), Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, dan masih banyak lagi.


6. Melawan Ijma’ tentang fungsi DNA


Pendapat yang bertentangan dengan Ijma’ (khariqul Ijma’) adalah pendapat yang pasti salah dan haram untuk diikuti.


Sejak awal Imaduddin selalu menyerukan DNA sebagai salah satu hujjah terputusnya nasab (bahkan bermunculan tuduhan keji sebagai keturun Yahudi dsb), padahal menurut perkumpulan para ulama dunia DNA jelas secara Ijma’ tidak boleh dijadikan dalih membatalkan nasab.


Kesesatan ini justru menjadi salah satu propaganda utama yang selalu digaungkan. Artinya, kelompok ini tidak hanya mengesampingkan para Fuqaha namun juga mengesampingkan ilmu Fiqh itu sendiri.


7. Kitab Yang Menyebutkan Ubaidillah sebagai putra Ahmad al-Muhajir atau menerima nasab Bani Alawi Dan di antara kitab-kitab yang mencatat nasab mereka adalah:


1. “Al-Suluuk fi Tabaqat al-Ulama’ wal-Muluk,” karya al-Janadi, seorang sejarawan Yaman yang meninggal antara tahun 730 dan 732 H.

2. “al-‘Athaya al-Saniyah wa al-Mawahib al-Haniyah Fi al-Manaqib al-Yamaniyah” : karya al-Malik al-Afdhal, Abbas bin Ali al-Rasuliy yang wafat pada tahun 778 H. Pada Nomor Judul 538

3. “al-‘Iqdu al-Fakhir al-Hasan Fi Thabaqat Akabir Ahli al-Yaman: Karya Abu al-Hasan Ali bin al-Hasan al-Khazraji wafat tahun 812 H

4. “Al-‘Iqd al-Tsamin fi Tarikh al-Balad al-Amin” : Karya Imam Taqi al-Din Muhammad bin Ahmad al-Hasani al-Fasi (775-832 H) dalam bukunya terebut Juz keenam, halaman 249 (versi kitab unmudzaj; Juz 6 Halaman 281),

5. Al-Jawhar Al-Shafaf bi Manaqib min Bi-Tarim min Al-Ashraf.” : Karya al-Alim dan penulis terkenal Abdul Rahman Al-Khatib yang wafat pada tahun 855 H, penjelasan tentang Nasab Bani Alawi disebutkan dalam Halaman 31.

6. “Tuhfah al-Zaman Fi Tarikh Sadat al-Yaman” : karya Imam al-Muarrikh al-Husain bin Abdirrohman al-Ahdal yang wafat pada tahun 855 H.

7. “Al-Barqat al-Musyiqah”, Sayyid Ali bin Abi Bakr bin Abdul Rahman al-Suqafi (wafat tahun 859 H) Pada halaman 118 & 112

8. “Shihah Al-Akhbar.” : Karya Muhammad Siraaj Al-Deen Al-Rifa’i yang wafat pada tahun 885 H, penjelasan mengenai Nasab Bani Alawi terkandung dalam kitab tersebut Juz 1 Halaman 53

9. “Tabaqat Al-Khawas Ahl Al-Sidq wa Al-Ikhlas” : Karya Sejarawan Abu Al-Abbas Ahmad bin Ahmad bin Abdul Latif Al-Syarji Al-Zabidiy yang wafat pada tahun 893 H. disebutkan dalam halaman 80

10. “Al-Dlaw’u al-Lami’” : Karya Al-Hafiz al-Sakhawi (wafat tahun 902 H) Kajian tersebut ditulis pada Juz 1 Halaman 59

11. “Qiladah al-Dahr fi Wafiyat a’yan al-Dahr” karya Imam Abi Muhammad al-Thoyyib bin Abdillah bin Ahmad bin Ali Ba-makhramah al-Hijraniy al-Hadlramiy yang wafat tahun 947 H. Dalam kitab tersebut Juz 5 Halaman 230 – 231

12. “Ghurar al-Baha al-Dawi wa Durar al-Jamal al-Badi’ al-Bahiy” oleh Sayyid al-Musnid Muhammad bin Ali al-Khard al-Alawi (wafat tahun 960 H). (juz 1 halaman 110 – 111)

13. “al-Mu’jam” : Karya Imam al-Faqih al-Hafiz Ibn Hajar al-Haythami (wafat tahun 974 H) Halaman 31

14. “an-Nafhat al-Anbariyah Fi Ansab Khoiril Bariyah” karya Al-Sharif Muhammad Kazim bin Abi al-Futuh al-Mousawi (wafat tahun 880 H) dalam Halaman 52.

15. “Tuhfat al-Talib” : Karya Syarif Muhammad bin al-Hussein al-Samarqandi (wafat tahun 996 H) dalam halaman 76 (dalam cetakan lain pada halaman 86)

16. “al-Ahsab al-‘Aliyah Fia al-Ansab al-Ahdaliyah” karya Abi Bakr bin Abil Qosim alAhdal yang wafat pada tahun 1035 H. Dalam kitab itu, tepatnya di halaman 52 dan 53>

17. “Al-Rawd al-Jali fi Nasab Bani Alawi” Sayyid Murtada al-Zabidi al-Lughawi (tahun 1205 H) dalam Halaman 31


Penutup:

Dari sini jelas, bahwa kami menolak sama sekali gerakan anti habaib yang dipropagandakan oleh Imaduddin Utsman dan para pendukungnya dan mengecam gerakan tersebut yang jelas ingin menjauhkan umat Islam dari kitab-kitab Fiqh Ahlussunnah wal Jama’ah dan mengadu domba antar umat.


Meskipun demikian, kami meminta kepada semua kalangan untuk tidak terprovokasi berlebihan sembari terus menyuarakan counter arguments agar umat Islam tidak tersesat dan terbujuk dengan ajaran mereka.


Sudah saatnya dilakukan introspeksi dari berbagai kalangan yang terikat dalam pusara polemik ini, baik dari kalangan habaib, ulama, atau umat Islam secara umum untuk memprioritaskan kedamaian, menahan diri dari berucap kasar dan mencaci maki, melakukan refleksi dan berbenah diri, serta saling mengingatkan jika memang ada sebagian dari kita yang memperlihatkan sikap dan akhlak yang kurang baik di mata Islam dan di mata masyarakat luas seperti oknum habaib yang memposting kata-kata sombong dan kurang pantas di sosial media, melakukan pemukulan terhadap orang lain karena emosi, dan sebagainya.


Kami semua meyakini bahwa dalam hal keutamaan nasab, para Habaib memanglah memiliki maziyah (keutamaan), namun antara kalangan habaib dan bukan habaib bersifat setara didepan hukum Syari’ah dan hukum negara NKRI yang mengaku sebagai negara yang anti rasisme. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama sendiri bersabda, “Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya.” (HR. Bukhari- Muslim)


Terdorong dari rasa sayang dan khawatih kami akan terjadi upaya-upaya keji sebagaimana yang dahulu terjadi kepada para Ulama’ dimana banyak tokoh Agama menjadi korban di tahun 66, maka kami memberi masukan kepada para sesepuh habaib dan juga kepada Rabithah Alawiyah supaya senantiasa memberi nasihat dan mengingatkan jika ada sebagian oknum yang bertindak kurang baik dan kurang bijak seperti Habib Bahar yang berkata, “Ini darah Rasulullah, kamu tidak,” dan ucapan Habib Alauddin Palembang bahwa Walisongo tidak ada hubungan nasab dengan Ba’alawi dan hanya hubungan sejarah saja. Kalau tidak ada pernyataan tegas dan klarifikasi dari para habaib sepuh dan Rabithah maka kami khawatir pernyataanpernyataan seperti itu dianggap mencerminkan sikap dan pemikiran yang diterima di seluruh kalangan habaib.


Sesekali baik rasanya jika dimunculkan sikap mengalah dari kalangan Habaib atau Kiyai karena kita semua tentu tidak menginginkan polemik ini akan berujung pada konflik pertumpahan darah yang pastinya akan merugikan secara besar-besaran kepada semua pihak.


Kami berharap dengan kita saling berbenah diri serta menjaga lisan dan perbuatan maka kita semakin naik derajatnya di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menjadikan kelompok Imaduddin dkk ini tidak lagi memiliki alasan lagi untuk membesarkan gerakan mereka sehingga tidak laku di masyarakat karena masyarakat melihat kebenaran, ketegasan, dan kesejukan yang kita perlihatkan dalam kehidupan sehari-hari.


Umat Islam sekarang ini butuh persatuan, dan persatuan akan sulit dicapai jika tidak ada kedamaian. Maka untuk mencapai suasana yang damai dan adem maka seyogyanya bagi kita mengedepankan sikap rendah hati, mawas diri, mampu bersikap adil, dan mau mengalah untuk kebaikan dan persatuan kaum Muslimin. Sebagaimana maklum bahwavtidak ada manusia yang sempurna tanpa kekurangan, tanpa terkecuali kalangan ulama, kiai, dan habib. Kita mengakui bahwa di kalangan ulama dan kiai ada kekurangan seperti ada sosok seperti Gus Miftah, Gus Muwafiq, dan sebagainya. Di kalangan habaib juga ada kekurangan.


Maka dari itu kami mengajak untuk bersama-sama menjaga persatuan dan kedamaian serta menahan diri untuk tidak bersifat sombong, emosi yang berlebihan, dan sebagainya. Justru dengan begitu maka gerakan Imaduddin dkk itu bisa lebih mudah kita redam dan kita hentikan karena tujuan mereka agar terjadi permusuhan antara golongan habaib dan masyarakat gagal terlaksana. Kita harus ingat bahwa musuh kita bersama sekarang adalah liberalisme, dan pluralisme, dan penjajahan Cina komunis dalam segi ekonomi, politik, sosial, dan sebagainya.


Terakhir, kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kita semua selalu diberikan hidayah untuk meniti jalan kebenaran, selalu didekatkan kepada ilmu dan para ulama, dan selalu didamaikan dengan sesama kaum Muslimin. Amin Ya Rabb al-‘alamin. WaLlahu A’lam bi al-shawab.


Sarang, 1 Mei 2024

KH. Muhammad Najih Maimoen


Sumber Tulisan: https://www.facebook.com/100054073830742/posts/pfbid0kqEea9dmKab3PTYmG39JUc2MExy7FwUa6kqfzGsqKaAE9jQcfV3iuVo3kByyremFl/?app=fbl