Disebut juga redaman ruang bebas adalah redaman yang dihasilkan oleh suatu media transmisi berupa ruang bebas sebagai akibat dari penyebaran energi sinyal yang dipancarkan
Free Space Loss (FSL) adalah hilangnya daya sinyal ketika gelombang elektromagnetik (seperti sinyal radio, WiFi, atau microwave) merambat melalui ruang bebas tanpa halangan fisik. Hilang daya ini terjadi karena energi sinyal menyebar semakin luas seiring bertambahnya jarak.
Dengan kata lain:
Semakin jauh jarak antara pemancar dan penerima, semakin besar kehilangan sinyal, meskipun tidak ada hambatan. Itulah yang disebut Free Space Loss.
Mengapa Free Space Loss Terjadi?
Ketika sebuah sinyal dipancarkan, energi gelombang menyebar membentuk pola seperti bola yang semakin membesar. Karena energi tersebar di area yang lebih luas, intensitas sinyal yang diterima menjadi semakin kecil.
Rumus Free Space Loss
Dalam bentuk desibel (dB), rumus yang paling sering digunakan adalah:
di mana:
-
d = jarak antara pemancar & penerima (dalam kilometer)
-
f = frekuensi sinyal (dalam MHz)
Contoh
Jika router WiFi (2.4 GHz) berjarak 100 meter dari perangkat:
Artinya sinyal akan berkurang 80 dB hanya karena jarak—belum termasuk hambatan lain seperti tembok atau interferensi.
- FSL bukan karena gangguan, tetapi murni karena penyebaran sinyal.
- FSL naik seiring meningkatnya frekuensi dan jarak.
- Di frekuensi tinggi (misal microwave atau 5G), FSL jauh lebih besar.
Garis lurus antara pengirim dan penerima yang tidak terhalang perambatan gelombang radio yang langsung diterima oleh penerima.
Fading
Penerimaan sinyal yang bervariasi karena karakteristik media transmisi yang menyebabkan terjadinya pembiasan, pantulan, penyebaran dan lainya.
- Pantulan (reflection) dari gedung, tanah, air
- Pembiasan (refraction) saat melewati lapisan udara dengan kepadatan berbeda
- Difraksi di tepi bangunan atau bukit
- Hamburan (scattering) oleh pohon, hujan, debu, kendaraan
- Doppler effect, terutama bila pengirim/penerima bergerak
- Jarak yang jauh
- Hambatan besar (gedung, bukit)
- Shadowing (sinyal tertutup objek besar)
- Biasanya terjadi secara perlahan (slow fading).
- Sinyal HP tiba-tiba hilang saat masuk terowongan → shadowing
- WiFi kuat → Anda bergerak sedikit → sinyal naik turun → small-scale fading
- Suara radio di mobil "kresek-kresek" saat melewati gedung tinggi
- Jaringan microwave antar tower terganggu saat hujan lebat (rain fading)
Pancaran gelombang radio dari pemancar ke penerima dengan merambat sepanjang permukaan lengkung bumi sampai pada titik dimana gelombang tersebut menyentuh permukaan bumi/horizon.
- Radio HT yang tidak bisa berkomunikasi lebih dari 5–10 km karena rendahnya antena.
- Menara komunikasi microwave antar kota biasanya dipasang sangat tinggi untuk memperluas radio horizon.
- Radar memiliki jangkauan yang terbatas di permukaan bumi karena radio horizon.
- Tinggi antena (faktor paling penting)
- Kondisi atmosfer (refraksi, ducting)
- Frekuensi gelombang
- Cuaca
- Medan dan topografi (gunung, bangunan)
Propagasi Proposcatter
Perambatan gelombang radio dengan memanfaatkan hamburan (scatter) melalui gumpalan partikel-partikel yang terdapat pada lapisan troposfer.
- variasi suhu
- kelembapan
- turbulensi udara
- partikel aerosol
| Aspek | Penjelasan |
|---|---|
| Rentang jarak | 100 – 600 km (umumnya) |
| Frekuensi | 300 MHz – 3 GHz (terbanyak 1–2 GHz) |
| Kualitas sinyal | Lemah → butuh daya tinggi dan antena arah (parabola/dish) |
| Reliabilitas | Sangat stabil, tidak tergantung ionosfer |
| Jenis jalur | Beyond line of sight (BLOS) |
- Komunikasi militer BLOS
- Jaringan microwave jarak jauh
- Koneksi remote area (padang pasir, laut, kutub)
- Link darat antar negara yang tidak punya satelit
- Contoh: sistem troposcatter NATO dan US Army.
- Butuh daya sangat tinggi (biasanya puluhan–ratusan watt)
- Butuh antena parabola besar
- Bandwidth terbatas
- Peralatan mahal
- Tidak tergantung ionosfer → lebih stabil
- Tidak butuh satelit
- Cocok untuk daerah tanpa infrastruktur
- Jarak lebih jauh daripada line-of-sight biasa
Gelombang radio terjebak diantara lapisan troposfer dan permukaan sehingga energi terbentuk menjadi dua dimensi dan menyebar secara horizontal bukan vertikal.
- Inversi suhu (Temperature Inversion)
- Lapisan udara hangat berada di atas udara yang lebih dingin.
- Menyebabkan gelombang radio membelok ke bawah, tetap berada di lapisan tertentu.
- Variasi kelembapan
- Lapisan lembap di bawah lapisan kering → indeks bias berbeda → memandu gelombang.
- Kombinasi keduanya
- Fenomena ini umum di dekat laut atau gurun di pagi/sore hari.
- Radio FM dari satu kota tiba-tiba terdengar di kota yang sangat jauh (bisa ratusan km)
- Sinyal radar kapal di laut melacak target jauh melebihi jarak normal
- TV UHF lintas negara kadang bisa diterima saat kondisi atmosfer tertentu
| Aspek | Ducting | Troposcatter |
|---|---|---|
| Jarak | Sangat jauh (tanpa kehilangan banyak daya) | Menengah (butuh daya tinggi) |
| Prinsip | Terpandu dalam lapisan atmosfer | Terhambur (scatter) di troposfer |
| Reliabilitas | Tidak selalu (tergantung kondisi atmosfer) | Lebih stabil |
| Antenna | Tidak perlu terlalu besar | Butuh high-gain antenna |
Perambatan sinyal/gelombang radio dari suatu antena pemancar ke penerima melalui permukaan bumi
Frekuensi Plasma
Frekuensi yang terbentuk karena tumbukan antar atom yang menghasilkan banyak elektron dan ion pada suhu tertentu, frekuensi ini digunakan untuk memantulkan atau merambatkan gelombang elektromagnetik. Jika frekuensi gelombang lebih tinggi dari frekuensi plasma maka gelombang akan dirambatkan, sebaliknya akan dipantulkan
Transmisi Troposforik
Proses pengiriman data dari pengirim ke penerima dengan memanfaatkan lapisan troposfer
Skip Distance
Jarak terjauh dari pemancar yang tidak dapat menerima pancaran melalui skywave

