KESALAHAN DI DEPAN UMUM
Masalah utama: memahami kata كُلُّ (kullu) secara serampangan
Dalam meme itu, kata كلّ dipahami selalu = mutlak 100% tanpa pengecualian. Ini keliru menurut kaidah bahasa Arab, ushul figh, dan tafsir ulama.
Kaidah NU (ushul fiqh): "Al-'ām yuqhashshash". Lafaz umum ('ām seperti kullu) bisa dan sering dikhususkan oleh dalil lain.
Contoh Al-Qur'an yang MEMBANTAH logika itu Ayat:
كُلُّ نَفْسِ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ <
"Setiap jiwa akan merasakan mati" (QS. Ali 'Imran: 185)
Apakah semua sudah mati sekarang?
Jadi:
Kullu # selalu mutlak tanpa konteks
Kullu mengikuti qarinah (penjelas)
Hadis "kullu bid'atin dhalalah" menurut NU
Hadis:
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ د
NU menjelaskan:
Bid'ah tidak satu jenis, tapi bermacam-macam.
E Penjelasan ulama Aswaja:
Bid'ah hasanah → baik
Bid'ah sayyi'ah → buru
Yang sesat hanyalah bid'ah yang MENYELISIHI pokok syariat, bukan semua hal baru.
Bukti ulama besar Aswaja
- Imam Nawawi: "Bid'ah terbagi menjadi hasanah dan qabihah."
- Imam Nawawi: "Bid'ah terbagi menjadi hasanah dan qabihah."
- Imam Izzuddin bin Abdissalam: "Bid'ah terbagi menjadi wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram."
- Sayyidina Umar (tarawih berjamaah): "Sebaik-baik bid'ah adalah ini."
Kalau semua bid'ah sesat:
Apakah Umar menyesatkan umat?
Apakah para sahabat diam terhadap kesesatan?
X Mustahil.
Kesalahan fatal paham
X Menyamakan bahasa hadis dengan logika matematika
X Mengabaikan:
Ilmu bahasa Arab
Ushul figh
lima' ulama
Praktik sahabat
NU tidak menolak hadis, tapi menolak cara membaca hadis tanpa ilmu.
Kesimpulan NU (ringkas & tegas). "Kullu bid'ah dhalalah" = bid'ah yang
MENYELISIHI syariat
Tidak semua hal baru sesat
Pemahaman tekstual tanpa manhaj ulama = sumber kekacauan
Agama itu pakai ilmu, bukan potongan dalil + emosi

