Perayaan Maulid, Esensi Emosional, Psikologis dan Spiritualitas, Kakek Tua Madinah Merasakan Keajaiban Maulid

Irfan Irawan

Maulid Nabi Muhammad SAW secara masif dan menyeluruh dirayakan oleh mayoritas umat Islam di seluruh penjuru dunia, tidak ada keraguan sama sekali tentang hukum merayakan maulid. Sama halnya dibolehkannya kita merayakan kelahiran anak, pernikahan, hari kemerdekaan dan lain sejenisnya karena esensi dari itu semua adalah luapan rasa syukur kepada Allah SWT. Merasa senang dan bahagia tersebut juga di tuntun oleh Rasulullah SAW di hari kelahirannya dirayakan dengan ibadah puasa sunah, jadi apalagi kita selaku umat yang cinta Rasulullah SAW, tidaklah berlebihan ketika kita merayakan kelahiran Rasulullah SAW dengan serangkaian acara dan seruan kebaikan. Kajian kekinian mengenai esensi perayaan maulid tentunya banyak dikaji, yang penulis pahami dan rasakan dampak baik secara emosional, psikologis dan spiritualitas. Secara emosi, adalah bentuk luapan cinta kepada yang dirindukan, yang disanjung dan dicintai sebagai seorang yang paling mulia dimuka bumi. Cinta harus diluapkan, diucapkan dan diaktualisasikan dalam tindakan yang nyata sebagai seorang pencinta. Dusta, jika seorang yg merasa mencintai hanya diam, bahkan acuh terhadap sesuatu yang spesial mengenai yang dicintainya. Esensi psikologis, ketika seseorang "attach/engage" terhadap sesuatu akan menimbulkan ketenangan, rasa optimis, antusias dan penuh suka cita, tentunya itu semua lebih lagi berpahala dan berdampak ketika disandarkan kepada Allah dan Rasul Nya. Apakah pernah ketika disebut nama "Muhammad" hati bergetar rindu dan bersholawat?, jika belum, jangan khawatir latihlah terus hatimu agar bisa meraihnya. Ketika Anda melihat kepada wajah para ulama, apakah Anda ikut merasa tentram, ingat ibadah dan rindu Rasulullah?, jika belum teruslah latih agar bisa mencicipi betapa manisnya engagement tersebut. Tingkat spiritutalitas, tentunya inilah tingkatan paripurna dan paling tinggi yang bisa dicicipi oleh seorang Muhibbin "Pencinta Rasulullah", setiap langkah dan tindakan akan mencontoh idolanya Rasulullah, senantiasa mencari ilmu kemuliaan tentang ajaran Rasulullah, terlebih mukjizat paling agung yaitu Al Quran. Senantiasa terkoneksi dengan "networking" Rasulullah SAW, baik secara sanad keilmuan, memuliakan keturunan beliau baik Sayyid/Syarif/Habib dan keluarganya, terlebih lagi bisa terkoneksi secara batiniyah. Kesemua hal tersebut perlulah dipupuk setiap saat, namun tidak salah juga jika diperingati acara puncaknya setiap setahun sekali. Pengalaman dimensi Spiritualitas yang nyata pernah terjadi kepada seorang tua di Madinah, simak berikut carita yang bisa dijadikan renungan. 


(Unsplash/Abdullah Öğük)

Dikutip Bondowoso Network dari akun facebook Surau Baitul Fatih, kisah pria tua beruban yang sembuh dari penyakit lumpuhnya itu sebagaimana yang diceritakan oleh Sayyid Alawi Al Maliki.

Suatu ketika, Sayyid Alawi Al Maliki menceritakan ayahnya yakni Sayyid Abbas Al Maliki yang pernah berada di Baitul Maqdis.


Di Baitul Maqdis ini, Sayyid Abbas Al Maliki memenuhi undangan untuk menghadiri acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang bertepatan dengan malam Eid Milad An Nawawi.


Selama acara berlangsung, Baitul Maqdis dipenuhi dengan lantunan-lantunan shalawat yang ada di dalam kitab Maulid Al Barzanji.

Saat melantunkan shalawat, Sayyid Abbas Al Maliki melihat seorang pria tua beruban yang berdiri dengan khidmat. Pria tua beruban itu sangat khusyuk melantunkan shalawat dari awal hingga selesai.


Sayyid Abbas pun heran kemudian bertanya kepada pria tua beruban itu.



"Mengapa kau berdiri sedemikian lama untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW? Padahal usiamu sudah tua?"


Pria tua beruban itu pun bercerita kalau dulu ia tidak mau berdiri pada acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Pria tua beruban itu berkeyakinan kalau perbuatan itu adalah bid'ah sayyi'ah (suatu perkara baru yang buruk).


Pria tua beruban itu suatu malam bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya, pria tua beruban itu duduk bersama sekelompok orang yang siap menyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW.


Saat Nabi Muhammad SAW datang, sekelompok orang itu takjub karena melihat cahaya Nabi Muhammad SAW laksana bulan purnama.


Sekelompok orang itu pun berdiri dan menyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW. Sementara pria tua beruban itu tiba-tiba tidak bisa berdiri. Kemudian Nabi Muhammad SAW berkata kepada pria tua beruban itu.

"Kamu tidak akan bisa berdiri," kata Nabi Muhammad SAW.


Pria tua beruban itu pun akhirnya bangun dari tidurnya setelah bermimpi seperti itu. Setelah bangun, ternyata pria tua beruban itu benar-benar tidak bisa berdiri alias lumpuh.

Penyakit lumpuhnya ia derita selama berbulan-bulan. Sampai suatu hari, pria tua beruban itu bernadzar jika Allah menyembuhkan penyakitnya ia akan berdiri sejak awal pembacaan shalawat Maulid Nabi Muhammad SAW sampai selesai.


Tidak lama kemudian, Allah SWT pun menyembuh penyakit lumpuh yang diderita oleh pria tua beruban itu. Karena sudah sembuh, pria tua beruban itu langsung mengingat nadzarnya.


Kebetulan beberapa hari setelah pria tua beruban itu sembuh akan dilaksanakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW itu, pria tua beruban itu langsung memenuhi nadzarnya untuk memuliakan pembacaan shalawat Maulid Nabi Muhammad SAW.


Sayyid Abbas merasa terharu ketika mendengar cerita tersebut dari pria tua beruban itu. Sayyid Abbas pun langsung bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.