Sabtu, 25 Mei 2019

author photo
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Alhamdulillah kembali berkesempatan menulis esensi kajian fadilah keutamaan menuntut ilmu (27 Januari 2019 Majelis Taklim Masjid Al-HIkmah Perumnas 2 Karawaci)


* Berangkat dari rumah sampai di tempat majelis taklim dicacat sebagai Fii Sabilillah

* Mengaji bersama pembimbing (guru) haruslah sama-sama memuliakan ilmu. Jangan lah merokok, jika seorang guru mengajarkan ilmu sambil merokok dimana letak pengagungan kepada ilmu. Para ulama salafuna sholeh sangatlah mengagungkan ilmu. Imam Malik ketika hendak mengajar, selalu mengenakan pakaian terbaik dan wewangian terbaik dan dalam kondisi berwudhu, kebiasaan itu turun-temurun diamalkan para muridnya. Guru saya sendiri juga mengamalkan hal yang sama, mulai dari almarhum Al-Habib Muhammad bin Syekh bin Yahya (Kang Ayip Muh), al-Habib Miqdad bin Qosim Baharun, Buya Yahya, KH. Muhammad Bahruddin bin 'Asmawi, Kyai Syarif Megu, Kyai Satima Pasalakan, KH Maftuhin,  KH. Hidayatsyah Karawaci, SE, MM, MSi. Mari teladani akhlak mereka terhadap ilmu.

* Setelah selesai mengaji satu perkara (lulus mendapatkan Ijazah sanad keilmuan) para guru akan merekomendasikan kitab bahasan apa selanjutnya yang akan dikaji. Atau kepada siapa muridnya tersebut akan melanjutkan berguru (melanjutkan pendidikan keilmuannya).

* Dari Abi Zar al-Ghifari, satu bahasan ayat ataupun hadist maka pahalanya sebanyak 100 rokaat solat sunnah. HR Ibnu Majah

* Rasulullah SAW pernah bersabda: "Orang yang meringankan langkah, lapang dada ke majelis ilmu, Allah SWT akan mudahkan langkahnya menuju ke Surga."

* Namun nyatanya banyak orang dari kaum muslimin merasa tidaklah dosa kalau tidak mengaji.

* Fenomena mendatangkan ustad/guru ke rumah adalah menyalahi sunnah. Coba bayangkan, sang ustadz atau sang ustadzah sudah datang ke rumah seorang yang memanggilnya. Tiba-tiba sang tuan rumah bilang, aduh maaf saya boleh gak tidak ngaji dulu masih repot nih. Atau mungkin kondisi lain, anak-anak yang akan diajari oleh sang guru masih sibuk main dengan mainannya. Lalu dimana letak pengagungan kit a kepada ilmu.

* Dalam pembukaan kitab Ihya Ulumudin ada riwayat Hadist Qudsi: "Aku yang jamin rizkinya orang yang menuntut ilmu".

* Pembelajaran akidah, akhlak, fiqih, tajwid, adalah ilmu yang wajib individual harus diketahui dan dipelajari oleh mukmin.

* Etika hadist ketika kita melaksanakan Umroh. Banyak orang yang lupa, banyak kejadian di Makkah orang berkelahi, saling menggunjing, mengejek satu sama lain.

* Kapan ukuran batasan menuntut Ilmu?, dari kita lahir sampai kita meninggal dunia. Buktinya apa, para sahabat sampai berdakwah berniaga sampai ke negeri China (Sahabat Saad ibn Abi Waqos meninggal dan maqom nya ada di China).

* Pelajaran harus-lah terukur, mulailah dengan menanamkan aqidah dan akhlaq yang kuat "adabul insan"

* Penah disebutkan dalam Hadist, "Siapa yang faqih terhadap satu urusan agama, lebih utama pahalanya dari 1000 rokaat ibadah sunnah"

* Alangkah baiknya, kita senantiasa memposisikan diri menjadi "Tolabah"  - penuntut ilmu.

Pertanyaan:
(1) Mohon dijelaskan pengertian dalam surah Surat Al-Anfal Ayat 66 dijelaskan bahwa:
الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا ۚ فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Arti: "Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar."

Tafsir Jalalain:
(Sekarang Allah telah meringankan kepada kalian dan Dia telah mengetahui bahwa pada diri kalian ada kelemahan) lafal dha`fan boleh dibaca dhu`fan. Artinya kalian tidak mampu lagi untuk memerangi orang-orang yang jumlahnya sepuluh kali lipat jumlah kalian. (Maka jika ada) boleh dibaca yakun boleh dibaca takun (di antara kalian seratus orang yang sabar niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang) daripada orang-orang kafir (dan jika di antara kalian ada seribu orang yang sabar niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah) dengan kehendak-Nya. Maka kalimat ini sekalipun bentuknya kalimat berita akan tetapi maknanya adalah perintah, yakni hendaknya kalian memerangi orang-orang kafir yang jumlahnya dua kali lipat kalian dan hendaknya kalian bersabar di dalam menghadapi mereka itu (Dan Allah beserta orang-orang yang sabar) pertolongan-Nya selalu menyertai mereka.

Penjelasan:
Sabarlah dalam segala urusan, begitu juga dengan urusan ilmu-akademis. Namun perlu diingat gelar akademis hanyalah sebagai penyemangat hidup, yang di akhir hayat hanya akan menjadi hiasan papan nisan. Berapapun jumlah golongan mu, jika patokannya adalah bersabar karena Allah meskipun lawanmu lebih banyak, Allah akan menangkan golongan yang bersabar.  Kita bisa belajar "Perang Uhud" kenapa kalah?. Dikarenakan gak sabar melihat ghonimah dan melanggar perintah Rasulullah SAW.

Lain halnya, ketika perang Badar yang sempat kaum muslim hampir kalah. Muslimin secara jumlah memang kalah. Sampai pemimpin tertinggi Rasulullah SAW berdoa dengan sangat menggebu: "Seandainya kami hari ini dikalahkan, niscaya gak ada orang akan menyembah MU."  Perbanyaklah membaca Surat Ali 'Imran Ayat 26 ketika hendak ada pemilihan pemimpin supaya Allah pilihkan pemimpin yang sesuai dengan tantangan zaman:
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Contoh terpilihnya Gubernur DKI Jakarta, bpk Anies Baswedan adalah jawaban Allah SWT untuk kebutuhan warga Jakarta dan sekitarnya. Bisa jadi doa yang diijabah itu berasal dari orang kampung yang jauh dari keramaian yang berdoa, dan doanya di dengar Allah SWT. Pelajarilah fenomena zaman, dengan kunci istiqomah dan sabar. Serahkan urusan kepada ahlinya, kyai yang faqih terhadap agama sudah seyogyanya mengurus ummat, bukan menukarnya dengan perkara dunia. Tawajuhlah bermusyahadahlah tidak usah mencela orang lain. Mintalah yang terbaik untuk kebaikan negeri. Berkholwatlah, angankanlah untuk bisa bermuajahah (bertemu) Rasulullah SAW. Bersedekah-lah dekatkan pengalaman rohani supaya diniatkan untuk mencontoh Rasulullah SAW. Bahkan disarankan ketika berkunjung ke rumah Kyai/Ustadz/Guru senantiasa membawa bekal/hadiah sangatlah dianjurkan. Ingatlah dan teladani keseharian Rasulullah SAW, meneladani keseharian keluarga nabi, sahabat dan para pengikutnya. Dikisahkan, Sayidah Aisyah ketika bertemu seseorang selalu berlindung bersama tirai (ketika tamunya lelaki).

 والله أعلمُ بالـصـواب

your advertise here

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post